SELAMAT DATANG DI BLOG ( Bangrey Cyber)

Blog ini saya buat untuk teman - teman yang ingin mendapatkan segala macam pengethauan, download gratis, informasi, kisah sukses, tips & trick, hiburan, dll . . Tentunya dapat bermanfaat untuk teman - teman semua . . . Saya berharap sekali Teman -Teman dapat berkunjung kembali di blog saya . .

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN TEMAN - TEMAN .


i-radio



Chat


ShoutMix chat widget
Powered By Blogger

Rabu, 15 Juni 2011

b.inggris franchising

Hoka Hoka Bento

Franchising is a means of marketing and distributing goods. The franchisor, normally a large business, supplies the franchisee. Usually an individual, with products of service for sale to the public. The franchisee pays for the right to sell the product or service in a certain area, and also makes annual payments known as royalties to the franchising company.
This type of business has always been popular in the USA. It developed particularly in the 1890 until 2010 when there was a boom in fast food restaurants such Mc Donald and Pizza Hut. now about one- third of all retail sales in the US are through franchised outlets,and there are about 500,000 enterprise operating in this manner.
The system is spreading quickly throught the world. In America companies using franchising include: fast food, Susshi, and Seadood
It is not surprising that franchising is growing fast.if it works property, it has advantages for both sides. The franchisor is able to expand his business without reducing his capital or borrowing money. In fact he gets additional capital from an will probably be hard working. This is important, especially in fast food outlets where the hours of opening are long.
The franchising system gives people the chance to set up in business without taking great risks. If they choose their franchise wisely, they will have the opportunity to make a small fortune.

b.inggris bisnis 2

Thailand Allwood and Sons
10 Saonjing street
Manila, HS 80097
Pagayo
Your ref :BB/JA/13B
Our ref:Ns/lh/10
11 st September, 2008
Mr. Budi Hartono
Director Mnager
PT. Maju Jaya
13 Jl. Yos Sudarso
Semarang 50003
Indonesia

Dear Mr.Reynal,
Thank you for your letter of 18 Maret, inquirying about our latest catalogues, price- list and terms of payment.
We are pleased to enclose our new catalogues, price- list and terms of payment together with samples of our promotional products.
We hope you will find our prices and terms satisfactory and look forward to receiving your first order.

Yours sincerely,

Reni Oktaviani
Marketing Manager

b.inggris


Indonesia National Cosmetik LTD
Jln. Ahmad Yani Tiga No. 50
Jakarta 300
­­­­­­­­­­­
01 Januari 2011

PT. Makmur Sentosa
888 Jl. Bung Hatta XI

Surabaya 205643
Dear Sir,
When we attended the Naional Cosmetik Trade Fair in Jakartaast month,we visited your booth and we are very interested in your demonstration of the high-security automatic garage doors.His ability to directly control your garage door for convenience and of out your car, just like your emphasis on the protection of theft are attracted to us.We believe that a ready market for this is in the Jakarta.
Our company as a whole has an Nationalbranch Zetax Corporation, known in the security and theft prevention industry.
Will you send us a list of prices and the literature of this cost? Of course, we very pleased to provide the public credit and a respect for the customer if we decide to order from your company.

Sincerely,
Reynal Nugraha Putra
Director

Sabtu, 01 Januari 2011

PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM DUNIA BISNIS

Ekonomi adalah bidang kehidupan paling fundamental dari kehidupan umat manusia. Hanya saja ekonomi tanpa “penyanding” hanya akan jadi bidang yang semu, tak menarik perhatian. Kita bisa melihat sisi yang jelas dalam dunia pertanian Indonesia. Di setiap kampung kegiatan ekonomi tani berjalan sejak jaman baheula. Tapi wajah pertanian tanpa sandingan teknologi tepat guna niscaya hanyalah fenomena kemiskinan dan keterpurukan yang kita saksikan. Barangkali terlalu jauh kita berharap jika sektor pertanian, apalagi sektor maritim akan segera maju berkat teknologi mutakhir. Itu semua masih dalam impian. Mari kita lihat fenomena sektor bisnis yang berada di kota besar dan para aktornya juga mengenal teknologi. Faktanya, secara umum yang terjadi, teknologi belum bisa menjadi andalan peningkatan taraf perbaikan usaha. Itu terjadi di berbagai sektor usaha perkotaan. Teknologi di kalangan bisnis kota masih sebatas berfungsi sekedar pelengkap kerja dan bantuan komunikasi/informasi. Hanya satu dua jenis bisnis yang benar-benar bergantung dan pelakunya mempercayai internet dan telepon sebagai pilar utama kelangsungan bisnis.
Benar kata Thomas Malone bahwa dengan berkembangnya teknologi informasi yang murah dan tersedia di mana-mana akan menurunkan biaya transaksi dalam hubungan pasar, berkuranglah dorongan untuk mengembangkan su-sunan kepemimpinan yang hirarkis. Benar kata pengamat teknologi Joanne Yates bahwa perkembangan internet tidak hanya sebagai teknologi komunikasi baru, melainkan juga sebagai pelopor bentuk organisasi yang sama sekali baru dan tidak hirarki, yang sesuai dengan tuntutan perekonomian yang kompleks dan padat informasi.
Namun pendapat dua pengamat teknologi di atas baru melihat sisi kesuksesan penerapan teknologi modern di negaranya sendiri, yakni Amerika Serikat yang nota bene transformasi teknologi benar-benar sudah masuk ke sendi-sendi bisnis masyarakat bahkan sampai ke petani desa. Masalah di Indonesia tentu lain. Di sini harus melihat fakta objektif bahwa kita memang baru mengenal teknologi sebagai perangkat yang layak dikonsumsi, bukan sebagai infrastuktur yang menjadi kebutuhan untuk kelangsungan bisnis. Nuansa ini bisa dirasakan dari fakta bahwa orang Indonesia bisa menjalankan bisnis tanpa teknologi. Kalaupun bisa beli teknologi masih sebatas untuk pelengkap kerja. Bahkan tak jarang yang hanya untuk asesoris belaka.

Gaya Kampanye Politik
Kita belum menjiwai benar bahwa teknologi adalah lahan utama untuk sebuah proyek bisnis. Dunia bisnis nasional adalah dunia bisnis konvensional, tradisional yang baru akan masuk ke wilayah adaptasi dengan kemutakhiran teknologi. Karena itu, sangat mustahil jika untuk mendorong sektor bisnis nasional pemerintah hanya banyak bicara gaya kampanye politik, atau paling jauh hanya memberikan insentif bagi pelaku usaha untuk menerapkan teknologi. Adaptasi teknologi bagi masyarakat memerlukan penjiwaan dan pemahaman yang cepat, cerdas dan tanggap sebagaimana gerak cepat perkembangan teknologi itu sendiri. Tanpa prinsip ini, niscaya masyarakat hanya menjadi konsumen dari perkembangan cepat nan hebat dari teknologi. Fakta di lapangan menunjukkan kelas menengah kita doyan mengonsumsi teknologi mutakhir. Tapi apakah mereka para konsumen itu benar-benar menikmati teknologi untuk sebuah perkembangan usaha? Atau justru sekadar bergaya? Ada banyak kasus bahwa para eksekutif yang memakai perangkat canggih itu tidak sepenuhnya mampu menggunakan fasilitas yang mereka miliki. Tragisnya ini juga terjadi di perusahaan-perusahan besar di mana mereka mengonsumsi perangkat canggih teknologi namun tidak meningkatkan penghasilan. Bahkan banyak kasus menunjukkan belanja teknologi justru menjadi beban. Fakta lain nampaknya memperkuat hal ini ketika kita menyaksikan berbagai instansi pemerintah, termasuk pemerintah daerah gemar belanja teknologi, terutama komputer dan internet. Target penerapan teknologi memang jelas, yakni meningkatkan kinerja dan pelayanan masyarakat. Tapi fakta membuktikan kinerja pemerintahan dari hari ke hari tidak meningkat. Hanya satu dua daerah yang berpretasi dalam kinerja dan pelayanan. Itupun bukan karena penerapan teknologi, melainkan lebih pada kebajikan kepemimpinan yang diterapkan kepala daerah. Dus, teknologi kemudian hanya menjadi barang konsumsi yang setelah puas dibeli lalu dimanfaatkan sesuka mereka. Soal kinerja tidak meningkat menjadi urusan di luar teknologi.
Tanpa Arah Tujuan
Agar teknologi bukan sekadar alat, atau bahkan “memperalat” kehidupan manusia seyogianya kita menyadari hubungan antara manusia dengan teknologi itu sendiri. Menarik adalah pendapat Bambang Sugiharto (2002) yang meyakini bahwa memang teknologi tidak bisa dilihat sebagai entitas yang terpisah dari realitas hidup manusia. Menurut Bambang, teknologi bisa ada “di dalam” tubuh manusia, (teknologi medis, teknologi pangan), “di samping” (telepon, faks, komupter, “di luar” (satelit), menjadi tempat tinggal (ruangan ber-AC). Relasi mutual ini tentu membawa realitas yang kompleks. Kenyataan lebih besar juga harus kita lihat secara jeli: sains, teknologi dan kultur telah bercampur aduk dalam kesatuan entitas. Dari sinilah kemudian kondisi objektif ini merekomendasikan pelaku bisnis di era teknologi modern harus mampu menangkap esensi hubungan. Tanpa kemampuan dan kejernihan melihat realitas itu niscaya gerak bisnis, baik gerak perusahaan maupun gerak kepemimpinan dan inisiatif tidak akan mencapai sasaran. Paling-paling berjalan tanpa arah tujuan.

Di sinilah pentingnya kita bicara rasional dalam berbinis di era globalisasi dan teknologi. Pertama, pencapaian bisnis tidak sekadar butuh pemahaman hitungan dagang secara konvensional, melainkan juga harus menghitung target pembukaan pasar baru di hutan belantara era hyper konsumerisme. Kedua, teknologi diterapkan bukan sekadar untuk komunikasi dan informasi, melainkan sebagai infrastruktur utama untuk mencari peluang pasar baru. Ketiga, belanja teknologi mesti harus menyadari kemampuan penerapan dan target-target rasional. Kecenderungan belanja sekadar untuk komunikasi sesama karyawan cukuplah dengan perangkat seluler murah. Selanjutnya yang harus dipikirkan adalah mempersiapkan marketing yang tanggap terhadap situasi pasar yang hendak dicapai. Marketing di sini bukan sekadar marketing biasa, melainkan mereka yang benar-benar terdidik dalam memanfaatkan teknologi dan melek perkembangan media massa baik cetak, online maupun televisi.

Keempat, teknologi, terutama internet dan telepon sekarang sudah menjadi bagian komunikasi global. Kelemahan kaum bisnis di Indonesia adalah tidak melebarkan sayap pembukaan pasar baik ekspor-impor maupun layanan jasa ke mancanegara. Padahal banyak pasar yang potensial ketika kita tidak sekadar bergerak di lingkup regional maupun nasional. Pasar begitu luas. Teknologi mampu menyediakan hal itu secara murah. Kenapa pikiran kita masih sempit?